Kau Tak Memujiku

danbo-galau

Jika ada tidur yang telah menjadi keramat, itulah tidur anak, tepatnya bayi, tepatnya lagi bayi kita sendiri. Jika bayi kita sedang tertidur, kita akan menjaganya dengan sangat hati-hati. Telinga dan jantungnya masih demikian peka. Tutup gelas jatuh pun akan membuatnya kaget dan terjaga.

Oleh karena itu, ketika bayi tengah tertidur, kita menjaganya dengan segenap sikap waspada, dengan sepenuh jiwa dan raga. Begitu penuh penjagaan sehingga siapapun yang bersuara akan menjadi salah di mata kita. Jika yang bersuara adalah anggota keluarga, kita akan langsung melabraknya. Jika yang bersuara adalah tamu salah waktu, kita akan memasang lagak demikian rupa.

Pendek kata, di saat bayi tertidur kita menginginkan seuruh isi jagat ini sunyi senyap.

Saya sendiri tidak menyangka betapa mengeramatkan tidur anak-anak ini bahkan berlanjut terus setidaknya selama anak berusia balita. Apalagi makin bertambah umur anak, makin kacau saja jadwal tidurnya.

Kita butuh membujuknya, jika perlu mengancamnya. Jika ancaman itu pun kurang mujarab kita butuh marah dan jika perlu menyakiti ala kadarnya. Jika kesakitan pun tak membuatnya jera, kita bisa kalap dan benar-benar menyakitinya .Tapi belum lama ini saya sukses menunjukkan kepada istri, tips menidurkan anak tanpa harus marah, main ancam, apalagi sampai menyakiti.Usaha saya ini sukses berat, walau amat menguras tenaga.

Caranya?Saya mendongengkan dia sampai bibir jontor. Saya benar-benar adu kuat dengan anak saya. Ketika saya lihat matanya masih melotot, saya lipatgandakan drama dalam dongeng saya. Sempat panik juga ketika dongeng sudah rampung setengah, tapi menguap pun belum muncul tanda-tanda.

Saya tidak putus asa, dongeng ini kalau perlu harus diulur-ulur sepanjang yang saya bisa. Sebuah tekad yang akhirnya membuat anak saya menyerah. Ia mulai menguap juga dan pelan-pelan kantuk menyergapnya. Saya mengepalkan tangan sambil berteriak “Yessss” dalam diam. Gembira bukan main walau bibir saya hampir mati rasa.Tegasnya saya merasa sukses, walau saya sama sekali tak bergembira.

Kenapa? Karena uji coba saya yang cemerlang ini sama sekali tidak dihargai istri. Saya merasa sakit hati.Saya bekerja keras untuk ini dan dia sama sekali tak mengapresiasi. Padahal kepadanya saya sudah membuktikan dengan cemerlang, betapa sukses menidurkan anak tanpa tekanan dan kemarahan.

Yang lupa saya ingat ialah bahwa saya baru sekali menidurkan anak seperti ini, sementara istri saya pasti sudah jutaan kali melakukannya dan saya lupa menganggapnya sebagai prestasi.

Ya di dalam rumah, memang sering ada kezaliman yang tak pernah kita sadari

(Deassy M. Destiani_BukanuntukDibaca)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s