JIKALAH

bench3Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa. Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Maka mengapa tidak dinikmati saja. Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa. Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa. Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Mengapa mesti tenggelam di dalamnya, sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri. Sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia. Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama. Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Maka mengapa mesti dirasakan sendiri. Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu saat nanti. Saat semua telah menjadi masa lalu. Aku ingin ada di antara mereka yang beralaskan di atas permadani sambil bercengkrama dengan tetangganya, saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, dibanding segala nikmat yang kuterima di sini)]

(Wahai kawan dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertaubat dan tidak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)

Suatu saat nanti. Ketika semua telah menjadi masa lalu. Aku tak ingin ada di antara mereka yang berpeluh darah dan berkeluh kesah. Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariyah yang dapat menyelamatkanku kini?)]

(Duhai,! Nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sekejap jua)

 

Ir. Andi Muzaki SH,MT.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s