Teguran Lembut Sang Tua

pak-tua.jpgSetiap kamis malam adalah jadwal suamiku mengajar manhaji untuk bapak-bapak di sebuah desa dan aku hampir selalu ikut, di samping untuk ikut belajar juga sebagai salah satu cara untuk memanfaatkan waktu bersama ^^. Malam itu jumlah yang hadir hampir sama dengan malam-malam sebelumnya, tetapi ada seorang Bapak yang sudah sangat tua hadir. Bapak tersebut memang tidak selalu hadir mungkin karena kondisi fisiknya juga yang sudah sangat lemah.

Maka dimulailah pelajaran malam itu seperti biasanya dan sampailah pada sesi diskusi. Seorang Bapak mengajukan pertanyaan, kemudian dijawab oleh sang guru dengan jawaban yang sangat sederhana, mudah diterima, dan sebagai perkenalan materi tersebut karena memang belum waktunya masuk materi tersebut sembari sang guru mengatakan “untuk materi seperti yang diajukan penanya tadi lebih lanjut akan kita bahas di Juz 3 (pada waktu itu masih awal Juz 2)”. Dengan nada lemas Bapak yang dengan semangatnya duduk di depan (yang sudah tua itu) berkata, “Apakah umurku akan sampai mempelajarinya?”.

Seketika aku terperanjat, tersentak dengan kalimat yang baru saja kudengar. Ya Allah (hampir aku meneteskan air mata di kelas waktu itu). Teguran lembut nan sangat menyadarkan. Seluruh isi kelas hening, diam, kemudian seorang Bapak menimpali “sampai Pak, insyaAllah umur panjang, kita sama-sama belajar sampai selesai”. “aamiin” jawab kami serentak.

Ya Allah…..

Terkadang yang muda terlena oleh usia, (menurutnya) menuntut ilmu masih bisa dijalani sampai nanti, kalaupun tidak sekarang bisa nanti. Padahal setiap hari kain kafan kita sedang diproses, dijahit dan kita tidak tahu kapan pastinya akan jadi dan kita pakai. Duhai diri yang terkadang alpha, terkadang malas. Ingatlah, usia sudah ada jatahnya, hidup kita ada masa habisnya. Lalu diri ini merenung, apakah aku sudah siap? Apakah aku benar-benar siap?

Ya, ingatan (kematian) itu memang harus dilatih, tidak serta merta datang dan pergi supaya diri ini tetap di jalan-Nya. Izinkan kami membawa bekal yang dapat mencukupi kami untuk dapat bertemu dengan-Mu Ya Allah. Izinkan kami meninggalkan kebaikan, keturunan yang kuat agamanya, ketenangan, ringan, senyum, dan Engkau menerima ruh kami seperti saat Arsy-Mu bergetar ketika menyambut ruh Sang Syahid Sa’ad bin Mu’aadz.

Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa kami, mudahkanlah kami dalam sabar, sakinah, mawaddah, wa rahmah-kan pernikahan kami sebagai salah satu jalan kami bertemu dengan-Mu. Kumohon selalulah bersama kami. Aamiin

K.

Advertisements

2 thoughts on “Teguran Lembut Sang Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s