Jangan Bosan Jadi Anak Baik

resize-imgKalimat itu tertulis di buku catatan pesantrenku, di pojok kanan bawah di atas nilaiku. Itu adalah pesan dari ustadzahku (pengajarku) di pesantren dulu sewaktu aku SMA. Pesan itu hanya ada padaku, teman-temanku tidak ada tulisan apapun di buku mereka. Waktu itu aku berpikir pesan itu aneh. Masak iya jadi anak baik itu bosan?,kok bisa,. Tetapi pesan itu selalu kuingat, entah mengapa padahal juga tidak ingin mengingatnya. Mungkin karena sangat pendek jadi cepat diingat.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa ’bosan’ pada pesan itu mempunyai arti lebih. Bukan hanya seperti bosan ketika kita makan makanan yang sama setiap hari dan melakukan aktivitas yang sama setiap hari. Tetapi lebih dari itu, ‘bosan’ di sini adalah ketika kita ingin “sesekali” ikut teman-teman bolos ngaji, sekolah, ikut teman-teman senang-senang yang tidak menambah ilmu, dan hal lain yang kurang bermanfaat.

‘sesekali’, kata yang seolah-olah mempunyai arti ‘tidak apa-apa’. Tetapi jika kita melakukan hal yang tidak baik walaupun hanya sekali, maka akan hilang kepercayaan seseorang yang percaya pada kita. Bukankah sekali kertas itu kusut maka tidak dapat diperbaiki seperti semula? Dan terkadang ‘sesekali’ menimbulkan kecewa dan ketika kecewa, apapun yang baik akan tetap terlihat buruk. Aku masih ingat ketika aku ‘sesekali’ ikut teman-temanku balik hari senin pagi, padahal aturan pesantren balik harus ahad sore karena malam nya tetap ada ngaji. Walhasil dapatlah aku hukuman menghafal surat Al-Jumu’ah, sedangkan teman-temanku yang lain ada yang mendapat hukuman membersihkan kamar mandi, bayar denda, dan lain-lain.

Ya, iman ini memang terkadang pasang, terkadang surut, terkadang naik, terkadang turun. Sehingga mempunyai teman yang sholeh/ah ataupun mencari teman yang sholeh/ah adalah solusinya. Saling menasehati, menegur, berbagi ilmu, menyemangati, dan tentunya saling menyayangi karena Allah telah mengirimnya untuk kita. Kalaupun kita masih terus mencarinya dan berjuang sendiri di jalan-Nya maka tetap bersabarlah dan terus ikhtiar. Mungkin motivasi dari Imam Syafi’i ini bisa menyemangati “Ketika dalam kesulitanmu orang-orang meninggalkanmu, itu bisa jadi Allah sedirilah yang akan mengurusmu”.

Lebih jauh lagi, aku menyadari bahwa kata ‘bosan’ berarti tidak jalan di tempat, harus ada ilmu baru, hafalan Al Qur’an baru, dan hal-hal baik baru tanpa mengesampingkan hal-hal baik yang telah biasa dilakukan. Tidakkah kau tahu kawan, menghafal, melakukan hal-hal baik, penting, dan besar itu sulit. Tetapi ‘memulainya’ jauh lebih sulit. Bukankah 1000 langkah itu sulit dan menguras tenaga?, tetapi 1 langkah pertama itulah yang tersulit dan terpenting. Engkau mulai dengan niat yang benar, tujuan yang benar, ikhtiar yang benar dan satu langkah itulah yang akhirnya membawamu ke 1000 langkah.

Ustadzah, terima kasih, pesanmu beberapa tahun lalu sudah aku mengerti dan maaf ternyata ‘mengerti’ itu butuh banyak waktu, atau malah aku terlalu lama membuang waktu untuk mengerti?. Mohon doakan anak didikmu ini supaya tetap istiqomah di jalan-Nya dan semoga ustadzah juga demikian, senantiasa sehat, bahagia, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

K.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s