Mengenang Al Amin

akhlak-nabi-muhammad-sawDi penghujung usianya, saat Rasulullah sudah mulai sakit, beliau meminta kaum muslimin untuk berkumpul dalam sebuah majelis di Masjid Madinah. Maka, berkumpullah para sahabat memenuhi undangan nabiyullah tercinta dan bersiap-siap untuk mendengarkan pesan apa yang hendak disampaikan Rasulullah. Setelah para sahabat berkumpul, Rasulullah pun segera naik mimbar seraya berkata dengan suara yang dalam, “Wahai kaum muslimin, siapa yang pernah aku sakiti? Berdirilah, balaslah aku sekarang! Karena aku tidak mau menerima balasan itu di akhirat.”

Mendengar apa yang dikatakan Rasulullah itu, tidak ada satupun yang berdiri. Akhirnya Rasulullah kembali bertanya, “Wahai kaum muslimin, siapa yang pernah aku sakiti? Berdirilah! Aku tidak mau menerima balasan itu di akhirat.” Namun, tetap tidak ada yang berdiri hingga Rasulullah bertanya untuk ketiga kalinya.

Maka berdirilah Ukasyah sembari berkata, “Ya Rasulallah, demi Allah, demi Rasulullah, demi ayah dan ibuku, andaikan engkau tidak berkata seperti itu 3 kali, aku tidak akan berdiri. Tapi karena engkau tidak henti bertanya, akupun memberanikan diri untuk berdiri. Ya Rasulullah, ketika Perang Badar dulu, aku berdiri di sebelahmu. Entah dengan sengaja atau tidak, tongkatmu itu mengenai tubuhku. Sakit, Ya Rasulullah. Maka, hari ini aku ingin membalas memukulmu dengan tongkat itu, wahai Rasulullah.”

“Wahai Ukasyah, jauh nian dari sikap sengajaku untuk memukulmu. Tapi bila engkau menghendaki untuk balas memukulku, pukullah!”

Seketika suasana majelis menjadi gaduh. Rasulullah dengan senyumnya, mengangkat tangan memberi tanda agar para sahabat berlaku tenang. Kemudian Rasulullah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ambillah tongkat yang aku gunakan saat perang Badar itu di rumah Fathimah.” Mendengar itu, Bilal bergegas menuju rumah Fathimah. Ia tidak mampu berucap sedikitpun. Namun, saat sudah berada di rumah Fathimah, ia ditanya oleh fathimah untuk apa tongkat tersebut. Bilal menjawab, “Tongkat ini untuk memukul Rasulullah, wahai Fathimah. Hari ini, beliau ingin dipukul dengan tongkat itu.” Lalu putri tercinta Rasulullah ini pun menjawab sambil berlinang air mata, “Bukankah Rasulullah sedang sakit? Siapa yang tega mau memukul Rasulullah?” Bilal tidak menjawab. Walaupun demikian, Fathimah tetap melaksanakan perintah ayahandanya.

Tongkat itupun dibawa ke masjid, lalu diserahkan kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan, “Wahai Ukasyah, tongkat inilah yang aku gunakan di Perang Badar. Ambillah dan pukullah aku dengan tongkat ini.”

Saat akan menyerahkan tongkat itu, Abu Bakar berdiri, “Wahai Ukasyah, tega nian engkau. Rasulullah sedang sakit, wahai Ukasyah. Tega sekali engkau mau memukulnya.”

Apa jawaban Rasulullah? Rasulullah menjawab dengan penuh kelembutan, “Wahai Abu Bakar, Allah sudah tahu kedudukanmu. Duduklah!”

Lalu Umar menyusul berkata dengan kerasnya, “Wahai Ukasyah, mengapa engkau mau memukul Rasulullah, padahal beliau sedang sakit?”

Rasul pun mengatakan hal yang sama, “Wahai Umar, Allah sudah tahu kedudukanmu. Duduklah!”

Kemudian berdirilah Ali, seorang sahabat, anak paman sekaligus menantu Rasulullah yang sangat mengasihinya, “Wahai Ukasyah, di antara yang hadir di tempat ini, akulah yang lebih sering berada di dekat Rasulullah, apakah engkau tega memukul Rasulullah di hadapanku? Kau boleh memukul aku, wahai Ukasyah. Aku tidak tega melihat Rasulullah dipukul.”

Rasulullah menjawab lagi, “Wahai Ali, Allah sudah tahu kedudukanmu. Duduklah!”

Lalu berdirilah Hasan dan Husain sembari berkata, “Wahai Ukasyah,bila engkau tidak mengenal kami, kami adalah cucu Rasulullah. Meng-qishash kami sama dengan meng-qishash Rasulullah, maka pukullah kami. Kau boleh pukul punggung kami, perut kami, tapi janganlah engkau memukul Rasulullah.”

Dan Rasulullah berkata kepada Hasan dan Husain,”Wahai penenang jiwaku, duduklah!”

Kemudian Ukasyah berjalan mendekati Rasulullah. Para sahabat tercekat dalam keheningan, menahan tangis kesedihan. Dalam waktu yang tak lama, tongkat itu berpindah ke tangan Ukasyah.

Begitu tongkat tersebut diterima Ukasyah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ketika tongkat ini dulu mengenai tubuhku, aku tidak memakai baju. Sekarang engkau memakai baju. Sungguh tidak adil, wahai Rasulullah.”

Separuh dari sahabat yang berada di majelis tersebut berteriak tak kuasa menahan tangis mereka, “Ya Rasulullah…” sebagian lagi berteriak, “Ya Ukasyah… tega-teganya engkau ya Ukasyah….”

Rasulullah mengikuti keinginan Ukasyah. Beliau kemudian menanggalkan jubahnya sehingga terlihat bagian punggung dan dada beliau.

Seolah tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Ukasyah meletakkan tongkat dan memeluk Rasulullah erat-erat sambil menangis ia berkata, “Wahai Rasulullah mana mungkin aku tega memukulmu? Aku hanya ingin tubuh yang hina ini bersamamu di bumi akhirat, wahai Rasulullah.”

Setelah mendengar Ukasyah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa ingin melihat calon penghuni surga, lihatlah orang ini.”

Para sahabat ikut terharu. Setelah itu Ukasyah dan para sahabat langsung pulang ke rumah masing-masing. Rasul pun demikian. Sesampainya Rasulullah di rumah, beliau mengalami sakit yang mengantarkannya pada keperihan momen sakaratul maut. Rasulullah berkata, “Ya Allah…. Sakin nian sakaratul maut ini. Aku mohon kepada-Mu Ya Allah, pindahkan semua rasa sakit sakaratul maut kepadaku. Janganlah umatku yang menanggungnya. Jangan umatku, ya Allah… Ummatiii.. Ummatii….” Dan kemudian meninggallah Rasulullah.

Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ‘aalii Muhammad

 Ya, diri yang hina ini memang harus selalu diingatkan, selalu dimuhasabah. Betapa Rasulullah yang begitu bagus akhlaknya, budi pekerti nya, dilindungi Allah, dijamin surganya masih memastikan tidak ada yang tersakiti olehnya baik oleh lisan, tangan, segala tindak tanduknya sebelum beliau bertemu Allah ‘azza wa jallah. Sedangkan diri yang hina ini kadang alpha, lupa jika banyak dosa, salah, menganggap enteng dosa, baik kepada diri sendiri lebih-lebih kepada orang lain. Padahal “Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang atas kesalahan yang diperbuat dengan sesamanya hingga orang itu memaafkannya.”

Ya Rasulallah, terima kasih atas segala teladan yang engkau contohkan, semoga kelak kami termasuk umatmu dan mendapat syafa’atmu di yaumil akhir. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s